Badminton di level internasional bukan sekadar adu teknik dan kelincahan, melainkan juga perang daya tahan fisik. Dalam satu turnamen kompetitif, seorang pemain bisa bertanding beberapa kali dalam sehari dengan durasi yang sulit diprediksi. Kondisi ini menuntut manajemen energi yang sangat presisi. Nutrisi bukan lagi soal mengenyangkan perut, melainkan bahan bakar strategis yang menentukan apakah seorang atlet akan tetap bertenaga di gim penentuan atau justru mengalami kelelahan otot sebelum pertandingan usai.
Persiapan nutrisi bagi pemain kelas dunia dimulai jauh sebelum mereka menginjakkan kaki di lapangan. Strategi ini terbagi dalam tiga fase krusial: persiapan sebelum tanding, manajemen energi saat turnamen berlangsung, dan proses pemulihan setelah laga berakhir.
Persiapan Energi Maksimal Sebelum Turnamen
Fase sebelum turnamen, terutama dua hingga tiga hari menjelang kompetisi, difokuskan pada pengisian cadangan glikogen dalam otot. Karbohidrat kompleks menjadi menu utama di sini. Pemain biasanya mengonsumsi makanan seperti nasi merah, pasta, atau ubi-ubian untuk memastikan tangki energi mereka penuh. Namun, tantangan sebenarnya muncul pada hari pertandingan.
Beberapa jam sebelum masuk lapangan, atlet disarankan mengonsumsi makanan yang mudah dicerna dan rendah serat guna menghindari rasa tidak nyaman pada perut saat melakukan gerakan eksplosif. Porsi protein sedang tetap diperlukan untuk menjaga kestabilan asam amino dalam darah, namun lemak harus dibatasi karena proses pencernaannya yang lambat dapat membuat pemain merasa berat atau lesu.
Strategi Menjaga Stamina Saat Pertandingan Berlangsung
Di tengah turnamen yang intens, jendela waktu antar gim atau antar pertandingan sangatlah sempit. Di sinilah nutrisi berperan sebagai “penyambung nyawa.” Saat jeda istirahat, fokus utama adalah hidrasi dan asupan karbohidrat cepat serap. Minuman olahraga yang mengandung elektrolit dan glukosa sering menjadi pilihan utama untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang melalui keringat sekaligus memberikan suntikan energi instan.
Selain minuman, camilan ringan seperti pisang atau gel energi menjadi andalan para pemain internasional. Pisang sangat digemari karena kandungan kaliumnya yang membantu mencegah kram otot di tengah reli panjang. Prinsipnya adalah menjaga kadar gula darah agar tidak merosot tajam, terutama jika pertandingan berlanjut hingga rubber game yang menguras fisik dan mental.
Pemulihan Total Setelah Laga Internasional
Begitu wasit mengucapkan “game set,” fase pemulihan langsung dimulai. Pemain badminton tingkat internasional memiliki waktu pemulihan yang sangat singkat sebelum jadwal pertandingan berikutnya. Jendela 30 hingga 60 menit setelah laga adalah masa paling kritis bagi otot untuk menyerap nutrisi secara optimal.
Kombinasi antara protein berkualitas tinggi dan karbohidrat sangat penting dalam fase ini. Protein berfungsi memperbaiki jaringan otot yang mengalami mikrotrauma akibat lompatan dan smes keras, sementara karbohidrat bertugas mengisi kembali cadangan glikogen yang terkuras habis. Selain nutrisi padat, rehidrasi tetap menjadi prioritas untuk menyeimbangkan kembali cairan tubuh. Dengan nutrisi yang tepat, seorang atlet dapat bangun keesokan harinya dengan kondisi otot yang lebih segar dan siap untuk kembali bertarung di level tertinggi.






